Tuesday, January 17, 2017

Contoh Kasus Manusia dan Harapan (Ilmu Budaya Dasar)


cita Cita setinggi langit
 



Sebelum Steve Jobs lahir pun orangtua biologisnya sudah punya cita-cita pendidikan tinggi untuknya. Ini tidak mengherankan ayah Abdulfattah “John” Jandali sendiri mengutamakan pendidikan. Jadi, tidak aneh apabila John Jandali lalu meraih gelar Ph.D. di Univerisity of Wisconsin. Ibu biologis Jobs, Joanne Schieble, mahasiswi pascasarjana tetapi wicara, juga mengutamakan pendidikan. Tapi karena ayahnya tidak setuju dia berpacaran, apalagi menikah, dengan seorang laki-laki Suriah, maka Joanne pun merelakan bayi yang dikandungannya untuk diadopsi, dengan syarat: orangtua yang mengadopsi harus lulusan univeristas.

Paul dan Clara Jobs, yang Schieble kira lulusan universitas. Ketika Schieble mendapati bahwa keduanya tidak lulus sekolah menengah atas, dia meminta pasangan Jobs berjanji: putrany harus kuliah. Paul dan Clara Jobs menyetujui dengan berat hati, tapi janji tersebut kemudian membebani keluarga kelas pekerja yang ingin mengadopsi anak itu. Anak yang lahir pada 24 Februari 1955 itu dinamai Steven Paul Jobs.

Karena tumbuh besar di Los Altos, selatan San Fransisco, Steve Jobs tidak kekurangan pilihan tempat kuliah, termaksud Standford University di dekat sana. Standford meluluskan para pendiri Hewlwtt-Packard, yang garasinya adalah “Tempat Lahir Silicon Valley” menurut situs web univeristas tersebut.
Ketika dia kelas delapan, Steven Jobs ingin membuat alat hitung frekuensi untuk proyek sekolah dan perlu suku cadang. Ada orang yang mengusulkan supaya dia menelpon Bill Hewlett. Sesudah menemukan nama William Hewlett di buku telepon, Jobs yang berumur 12 itu menelepon dan bertanya, “Apakah ini Bill Hewlett dari Hewlett-Packard?”
            “Ya,” kata Bill. Jobs mengajukan permintaannya. Bill berbicara sebentar dengan Jobs mengenai proyek itu.
            Beberapa hari kemudian, Jobs pergi ke HP dan mengambil kantong penuh suku cadang yang disiapkan Bill untuknya.
            Jobs mendapatkan pekerjaan musim panas di HP pada masa antara tahun ajaran pertama dan keduanya di Homestead High.
            Sekilas Standford University boleh jadi cocok dengan Jobs, tapi dia pernah menjelaskan: “Saya ingin sesuatu yang lebih artistik dan menarik.”

Pilihan lainnya adalah universitas negara bagian California dengan biaya lebih rendah. Tapi universitas California tak menarik bagi Jobs. Malah, sesudah mengunjungi Reed College di Portland, Oregon, dia bertekad keliah disana. Orangtua angkat Jobs sudah tahu bahwa putra mereka yang pandai tapi keras kepala tidak bisa digoyahkan kalau sudah ingin sesuatu. Tahu tidak ada yang dilakukan. Orangtuanya menyerah dan bersiap menanggung uang kuliah dan biaya hidup di negar bagian lain.

Janji Paul dan Clara Jobs kepada Joanne Schieble, ibu kandung anak mereka, akan terpenuhi: Putranya akan kuliah berapapun biayanya.

Sebagaimana didapati Steve Jobs, ada perbedaanpan besar antara cara dia memandang perannya sebagai mahasiswa di Reed College dan harapan Reed College terhadap dia. Jobs mengutamakan “liberal” dan “seni” di Reed College, tapi Reed College mengutamakan kurikulum yang menuntut. Menurut laman Web Reed College: “Reed menyediakan pengalaman S1 yang paling ketat secara intelektual senegara, dengan program sangat terstruktur yang memadukan sebaran luas dan studi mendalam di disiplin akademis tertentu.

Sesudah enam bulan frustasi karena berusaha mengikuti irama sesama mahasiswa baru, Jobs menyadari bahwa dia tidak sama dengan mereka. Dia hidup seperti seniman dan tak suka dengan batas batas akademik. Gelar sarjana dianggap sebagai tiket menuju keberhasilan, tapi menurut Jeremy Kahn dala artikel majalah Fortune, “bagi banyak orang, nilai yang didapat dari pendidikan tinggi adalah persahabatan yang dijalin (atau tidak dijalin) dan jalan baru yang diambil (atau tidak diambil). Dengan demikian, argumen ekonomi boleh jadi tidak tepat”. Kahn menjelaskan bahwa orangtua “ingin tahu apakah layak menguliahkan anak kesayangannya. Dan itu pertanyaan yang tak bisa dijawab ahli ekonomi.”

Namun, pertanyaan itu juga tak berlaku bagi Jobs karena dia akhirnya drop out untuk selamanya dari Reed College, menolak pendidikan formal dan memilih pendidikan informal, seperti komentar getir Mark Twain: “Saya tak pernah membiarkan urusan sekolah mengganggu pendidikan saya”. Bagi Jobs, pengamatan dan pengalaman kehidupan itu sendiri akan menjadi guru gurunya.



Sinopsis Cita Cita Setinggi Langit
Pasangan dari Abdulfattah atau John dan Joanne Schieble melahirkan bayi yang bernama Steven Paul Jobs di adopsi oleh Paul dan Clara Jobs karena ayah dari Joanne Schieble tidak membolehkan dia untuk berpacaran apalagi menikah dengan laki laki dari Suriah tersebut yang bernama Abdulfattah atau John.

Steven adalah anak yang pintar dia berkuliah di Reed College, tetapi apa yang dia harapkan tidak sesuai dengan kenyataannya. Jobs mengutamakan “liberal” dan “seni” di Reed College, tapi Reed College mengutamakan kurikulum yang menuntut.

Sesudah enam bulan frustasi karena berusaha mengikuti irama sesama mahasiswa baru, Jobs menyadari bahwa dia tidak sama dengan mereka. Dia hidup seperti seniman dan tak suka dengan batas batas akademik. Kini Jobs akhirnya drop out untuk selamanya dari Reed College, menolak pendidikan formal dan memilih pendidikan informal. Bagi Jobs, pengamatan dan pengalaman kehidupan itu sendiri akan menjadi guru gurunya.



melepaskan untuk meraih lebih tinggi 




Teman teman yang luar biasa , sepasang kekasih yaitu Gary dan Marilyn Skiner, muncul  rencana sederhana pada tahun 1983. Awalnya mereka tingga di Kanada dimana tempat Marilyn berasal, namun karna Gary berasal dan tumbuh besar di Zimbabwe akhirnya mereka putuskan untuk tinggal disana. Dan mereka merasa bahwa Allah telah memanggilnya untuk merintis sebuah gereja kecil di Kampala, Ibukota Uganda yang telah porak poranda dikarenakan adanya perang saudara. Banyak orang yang terbunuh dan terusir dari negerinya, dahalu Zimbabwe dikenal dengan sebutan ”Mutiara Afrika” namun sekarang menjadi bangsa termiskin didunia.

Dan sebab itulah Gary dan Marilyn mempunyai impian membuat tempat tinggal sementara untuk para korban dan anak anak yang selamat. Dan ingin membuat tempat anak anak  mengasah bakat mereka agar lebih baik. Dan dengan dana seadanya setelah membuat Gereja. Gary dan Marylin membuat rumah pelayanan yang bernama “Pelayanan Anak Watoto” yang beretempat disebuah rumah kecil untuk membantu tumpangan, pendidikan dan perawatan bagi anak anak yang membutuhkan. Moto watoto adalah ”Menyelamatkan, Memelihara, dan Membangun  Kembali”. Dan di Uganda sendiri diperkirakan memiliki 2 juta anak yatim. Oleh sebab itu mereka mempunyai ambisi untuk menjadikan rumah “Pelayanan Anak Watoto” dapat berkembang dan dapat menampung seluruh anak yang terdapat diUganda. Dengan sabar Gary dan Marylin mengajari anak anak  yang tinggal ditempatnya tersebut. Dan akhirnya mereka membuat group music yang bernama ” Watoto Children’s choir”  yang tersohor didunia karna penampilan dan dari mana mereka berasal. Dan mereka melakukan perjalan keliling dunia untuk mengadakan  “Konser Harapan”  yang bertujuan menggalang dana agar mereka bisa terus mengembangkan misi mereka dalam mengejerkan apa yang bukan mereka inginkan, melainkan apa yang Allah kehendaki. Mereka berkata ”Kita memiliki Allah yang Maha Agung dan kita percaya kita bisa membuat perbedaan”. Setelah melakukan konser keliling dunia untuk menggalang dana, Gary dan Marylin memperbesar “Pelayanan Anak Watoto” dan mereka melakukan perjalanan kepenjuru pelosok di Zimbabwe untuk melakukan perawatan dan bantuan untuk para korban lainnya. Dan mereka mencari anak yatim untuk tinggal bersama mereka di ”Pelayanan Anak Watoto”. Setelah itu mereka membuat program “Harapan untuk Hidup” dengan mengajari keterampilan dan pelatihan kejuruan serta konseling untuk para wanita agar mempunyai sebuah masa depan yang cerah.







Sinopsis Melepaskan Untuk Meraih Lebih Tinggi

Ini menceritakan tentang sepasang suami istri yang pada awalnya berniat membuat gereja untuk tempat ibadah. Namun karna situasi di Uganda yang tidak kondusif membuat mereka mempunyai  impian untuk tempat tinggal para anak anak yang tidak mempunyai tempat tinggal dan pasangan ini mengajarkan anak anak itu berbagai macam pelajar dan cara mengolah bakat mereka, dan mereka berhasil membuat grup music dan menciptakan sebuah lagu. Mereka melalukan perjalanan keseluruh dunia untuk mengadakan “Konser Harapan” yang bertujuan menggalang dana agar pasangan kekasih tersebut bisa mengembakan impian mereka untuk membantu para korban terutama anak anak untuk mendapatkan kehidupan yang layak.

No comments:

Post a Comment